Monday, March 28, 2011

pemikiran

Pagi ini dunia menyapa dengan keindahan yang berbeda. Sambutan mentari pada bumi menerangkan sebuah kesetiaan yang menenangkan dalam peraduan. Singgah sejenak di kampus ungu ini mengingatkan aku tentang banyak diskusi yang terlampaui dan banyak keputusan yang ku buat hingga kini berrada disini. Semua ini bukan hanya soal ketidak sengajaan semata. Namun lebih jauh. Hal tersebut merupakan real tentang keberuntungan dan kemudahan itu sendiri.

Menjadi seseorang disini bukan hanya bisa melakukan sesuatu sebagi bentuk tindakan nyata. Namun bertindak tanpa pemikiran yang mendalam. Sama halnya dengan bunuh diri perlahan dengan jaminan akan bangkin namun jaminannya kadaluarsa. Perumpamaan konyol saat harus kembali menengok kebelakang dan terlebih harus menempatkan diri di sisi diri yang sebenarnya tak ada di pengertian kita sebelumnya.

Memulai memang bukan hal yang mudah. Mengiklaskan bukanlah sekedar berkata. Melepaskan secara perlahan merupakan sebuah keinginan yang sejatinya tak pernah terencanaan. Namun ini bukanlah soal kemarin. Ini bukanlah soal masa lalu ini bukanlah soal diriku.namun lebih jauh ini soal masa depan yang teramat penting untuk sekedar kupasrahkan pada takdir tanpa tindakan. Maka dari itu harus ada pergerakan nyata. Kemana hidup ini akan berlangsung? Dimana pemikiran ini bertumpu? Dan kemana jenjang pergerakan ini di tempatkan?

Dan apa batas ukuran syukur? Kebahagiaan kah?

Semarang, 28 maret 2011

06.16 am

seputar kegiatan

Ada banyak tanda tanya. Buku yang ku baca habis akhir-akhir ini begitu beragam hingga terpecah apa yang terbias dari otak selain hanya pembelajaran dikampus. Perbincangan dikalangan mahasiswa pun beragam dari mulai aktivitas yang mulai menyapa lelah hingga rapat hingga diskusi panjang tentang pergerakan kedepan. Hal yang aku rindukan ketika dirumah. Hal yang berbeda ketika di sma yang masih malu-malu mengeluarkan pendapat. Hingga hal yang dianggap aneh ketika pikiran kritis itu dilandaskan menjadi kunci langkah kedepan.

Namun dilain pihak ada suasana lain yang mengusik kawasan universitas konservasi di akhir pekan yang lalu. Ada berbagai atribut yang membuat unnes lebih berwarna hingga terkesan meriah. Pemuda hingga barisan anak-anak terlihat antusias dengan berseragam pramuka berjejer di sekitar unnes untuk menunggu kedatangan orang no 2 di Indonesia. Yang tak lain adalah pak budiono. Sedangkan perbedaan yang lain adalah petugas keamanan yang menjamur di sekeliling sudut universitas ini.

Bisa dibayangkan. Bagaimana mahasiswa bergerak dengan pengawasan ketat ujung senjata laras panjangan dengan warna hitam mencoloknya di segala sudur . tuntas sudah bagaimana unnes mencoba dan ‘memasarkan diri’ hingga kemenpora yang di ketua oleh andi malarangeng akhirnya memutuskan untuk mengadakan acara sosialisasi undang-undang pramuka di unnes.

Senada dengan tanggapan banyak pihak bahwa ini salah satu wujud dari eksistensi unnes sebagai lwmbaga pendidikan yang ikut serta dalam pemberdayaan kepramukaan di kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan pembelajaran bagi siswa maupun mahasiswa. Hal itu disebabkan bahwa esesnsi dari pramuka itu sendiri merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah bangsa mengenai moral generasi muda.

Kemenpora menegaskan bahwa ‘pramuka bukan hanya dijadikan kegiatan ektra semata. Namun lebih jauh pramuka merupakan penggokohan hingga pembentukan karakter pemuda bangsa yang terampil, pintar dan berbudi pekerti luhur’.

Sosialisasi yang berlangsung pada 25 maret hingga 27 maret 2011 ini menjadi awal dan titik tolak perbaikan kepramukaan kedepan yang lebih baik dan ber daya guna.

Semarang,27 maret 2011

10.30 pm

Anggrek malam ini,~


Aku tak tahu menahu akan apa yang dirasakan anggrek. Tiba-tiba ia menangis malam ini. Lamunannya ternggelam dalam layar notebook yang sedari tadi sore di hadapannya.
Memang sih dia tengah bebas tugas untuk menunaikan kewajibannya. Namun kali ini. Berbeda. Bukan lagu mahasiswa atau lagu asal barat yang di dengarnya namun di balik earphone itu terdengar lamat-lamat lagu nasyid yang memang menjadi nomor satu dibukanya saat membuka notebook merah di sudut kamarnya.
Namun itu berbeda selepas mahrib ini, iya membuka file lama yang di milikinya. Tak jelas apa. Hanya saja tiba-tiba ada senyuman di wajahnya. Senyuman yang sedari pagi ku rasa tak nampak walau tengah bercanda riang dengan pak andi malarangeng , sang menegpora.
Hal yang menjadikan aneh lainnya adalah hp yang biasanya tak pernah berada jauh darinya kini bersandar manis di meja belajar. Pemiliknya bahkan tak menengok saat beberapa kali hape itu menderingkan reff- mars mahasiswa tanda sms masuk dan lagu renung-nya awan sebagai nada ada telepon masuk. Sampai-sampai beberapa anak kos menengok ke pemilik kamar. Mengira kamar itu kosong. Namun yang di tengok malah enjawab santai.
“palingan undangan kajian besok selasa, ma rabu, kalo tak rapat. Soalnya ibu dah telepon tadi siang.”
Jawaban itu yang selalu diperdengarkan setiap kali ada yang mengingatkan hapenya , namun mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
Anggrek sibuk dengan notebooknya. Mencoba menyusuri jejak seseorang yang kembali tiba di hadapannya dengan jelas hari ini. Bukan tak sengaja melihatnya di MUA atau malah menebak seseorang yang bersandar di embung sore kemarin. Namun untuk pertama kali kembali berpapasan langsung.
Anggrek bahkan sempat beberapa kali berpindah tempat dari tempatnya duduk saat tadi pagi. Mencoba tak menatap pemuda itu secara langsung. Takut hatinya yang ia sendiri tahu tengah limbung malah ambruk beneran.
Namun Allah memberi jawaban lain. Bahwa memang ini mungkin saatnya bertemu. Buku pemuda yang diniatkan untuk dibawanya untuk dikembalikan pun tak terbawa. Bagaimana bisa lepas dari perasaan terbebani ini.
Dia hanya mengangkat bahu. Mencoba menata hatinya sendiri. Mencoba kembali ke memori perjanjiannya pada Allah, bahwa akan mencinta hanya pada suaminya kelak.
Namun entah kenapa ia malah menangis, tak bersuara memang. Diatas karpet pink dan didepan notebook merah yang selalu menemaninya. Ternyata ia tengah menghapus foto. Beberapa editan foto yang memiliki satu nama. Entah apa maksudnya. Tetes air mata itu kini membasahi pipi yang tadi menyunggingkan senyum sekitar 15 menit yang lalu.
Semua tak menyapa. Hanya berbisik lirih. Karena mereka tahu bahwa anggrek perlu waktu sendiri untuk menangis. Hingga foto itu habis dan tulisannya tentang seseorang telah munah entah kemana.Jemarinya tak lepas dari keyboard notebook merahnya.
Tak lama selepas itu ia pergi. Dan kembali dengan ice cream coklat yang di makannya sendirian sambil melihat awan malam ini. Udara malam tak menghalangi diri untuk tenggelam dalam dirinya sendiri. Ia berharap hujan turun. Walau sepertinya tak mungkin. Namun setidaknya ice cream coklat itu pereda segalanya.
Aku hanya terdiam . mengikuti gerak dan langkah anggrek. Ku biarkan dia malam ini. Biarkan dia bergerak seadanya untuk melampiaskan segalanya. Karena esok ia pun akan kembali tersenyum. Muramnya hari ini akan lenyap dan hari baru akan disambutnya.
Anggrek,, jangan bandel yah... jadilah seseorang yang menjadi impianku. Jadilah seseorang yang dinanti masa depan. Masa depan bukan menanti gadis lemah karena cinta nafsu yang hanya melabuhkan hatimu pada sedih dan bermuram durja.
Namun cinta yang sesungguhnya akan di hiasi dengan ibadah dan kesucian di pernikahan kelak.
Anggrek.. anggrek.. kau ini ada-ada saja.. J
20.31 pm
Sabtu,26 maret 2011

Kesunyian

Berada di kesendirian ini aku merenung

Mencoba meniti hati

Mengurai rasa

Dan memahami arti hari

Aku disini, mentari

Tak kah kau sadari kedatanganku

Aku disini, pelangi

Enggankah kau bercanda

Aku disini, awan putih

Kemana senyum ceria yang ku rindu..

Dimana aku menemukan ceritaku

Tak kah segalanya terabaikan dalam masa

Muak kah dunia encapai keabadian semesta

Gemerlap ini

Mungkinkah hanya bising buatan semata?

Mentari dan kebingungan

Adakah itu suatu pengecualian alam

Hujan yang mengiringi.

Ku biarkan hadir walau hanya sebentar

Pelengkap rasa yang ku tenggelamkan sejenak

Menanti segalanya

Dalam jingga

Dan kesunyian..

jingga..


Aku pernah bermimpi mengejarmu wahai jingga.

Kelopak bunga bertebaran di serambi rumah .

meninggalkan serbuk wangi yang mengantarkanku ke peraduan malam

yang ku indahkan hingga pagi datang.

Aku meneliti akan kehadiranmu jingga.

Satu per satu tinggal dan datang semaunya.

Manaruh mimpi dan keadaan yang ada.

Namun aku masih disini.

Mengisi satu per satu mimpi yang tertanam mewah dalam hati.

Aku mengenalimu jingga tak terasa malam kita bertabur bintang dan alpa.

Namun ada bekas mendalam disini.

Yang terpilih.

Itulah yang mengadu mimpi di negeri seberang.

Sungguh aku hanya terrobek hati ketika serpihan itu

hanya sekedar tenggelam dan dilahap kepalsuan.

Aku tak menyangka jingga.

Semuanya hanya omong kosong.

Canda di akhir minggu yang membuatku terbahak kemudian terlupa.

Bersimpuhlah jingga.

Tak ada yang membuatku kuat dan rapuh semudah itu.

Biarkan malam ternggelam kau tetap sama dalam ingatan.

26 januari 2011

17:37

Friday, March 25, 2011

senja di batas kota

entah kapan aku pernah menyangka untuk bersua dengan senja. menanti keindahan yang tertuang dalam siluet cahayanya. aku bergelora. melamun dan berdendang seadanya. dan kali ini aku tak sendirian. ada mereka yang menyayangiku mengangguk memberi isyarat restu saat aku mengungah dunia. aku mengiris halau. mencoba menghapus keraguan dan mengurai fitrahku sebagai seorang diri dengan beribu kesalahan. aku tersenyum. bunda memiliki sejuta angan dan pasan untukku. ia bergeming tak ingin mengeluarkan air mata. namun pelukan hangatku memecahkan segalanya. senja ini aku kembali disibukan dengan kerinduan. senja di batas kota itu terusik oleh suara kereta api yang terdengar semakin kencang.
dan akhirnya..
perpisahan itu adalah jalan menuju hal yang ku inginkan. hanya satu genggaman tangan yang mengurai kekuatan. senyum hangatnya memberiku janji untuk kehidupan yang lebih baik. dan aku pun membalasnya dengan senyuman. janji yang tertambat dalam asa yang ku lampirkan dalam doa. di senja ini aku mengurai air mata. antara bahagia dan kesedihan. namun harap selalu terurai dalam kedipan.

from little be some one to make a change

Teringat akan kata bunda kemarin, saat beranjak menempa diri di negeri orang.

“Bahwa hidup adalah pembelajaran diri tiada akhir, memiliki prinsip adalah pedomannya, mengaktifkan filter adalah keharusan dan menjadi orang yang lebih baik adalah pelaksanaan berkelanjutan.”

Dan begitulah aku memantapkan diri untuk beralih profesi yang darinya hanya sekedar ‘siswa’ kini menjadi ‘mahasiswa’ . hal itu menjadikan berbeda ketika berjuta nyata mempertanyakan apa yang akan ku berikan untuk kebermanfaatan. Beberapa orang bertanya padaku. Apa sih mahasiswa? Bagaimana harus bersikap dan menjadi mahasiswa yang benar.

Perbolehkan aku untuk menjawab dengan pemikiranku. Bahwasannya mahasiswa adalah kaum pembelajar, intelektual untuk rakyat dan sebagai masa depan untuk bangsa dan agamanya. Hal tersebut cukup jelas untuk kita pastinya.

Ketika beberapa orang sibuk mempertanyakan diri.aku siuk menguraikan hari dengan perngertianku tadi.

Pada posisi saat ini aku memang dalam masa pemahaman dan pemaknaan konsep yang jelas.bagaimana menjadi diri yang baik bukan Cuma mutlak untuk diri sendiri namun lebih jauh untuk masyarakat luas. Maka berbanggalah aku saat nantinya aku menajadi seorang guru. (amin..)

Ketika banyak hal yang terbongkar di pemikiranku. Ketika banyak diskusi ku rangkai dari berbagai konsep antara benar dan salah di antara mereeka. Faktanya kita memang benar-manusia yang berbeda, yang pemikir, yang mahluk sosial, dan kita juga manusia yang memiliki perbedaan keyakinan diri berbeda.

Dan itu yang membuatku berikir dan menibang diri. Karena faktanya tak aa manusia yang sempurna, tak ada mahluk lain selalin Allah yang menyatakan kebenaran mutlak, dan tak ada mahluk lain selain Allah yang berhak memposisikan diri menjadi sosok yang pembeda dan menentu salah dan benar.

Terutama saat ini. Ketika banyak orang melebihkan hati dan diri di posisi kekuasaan dan kebenaran. Upss.. ini bukan duniamu, ini dunia milik Allah. Maka janganlah jadi sombong karena pemikiran.

Dan dalam pembelajaran ini akau mengenal banyak kemilau kehidupan yang lain. Tentang hal yang disebut politik dan yang lainnya. Selain materi dan perbekalan untuk profesi selanjutnya jadi guru aku perlu materi lain. Karena hal itu pastinya akan membentuk diri yang menuju perubahan yang lebih baik bukan.

Aku tertawa sendiri menjadi diriku. Karena berada ditengah kedua peradaban. Karena aku ditengah dua sudut pandang.

Namun aku memang aku. Aku tak disana. Aku berada pada posisisku untuk menfilter semua yang datang di diriku. Aku menjadi catalog untuk anak dan keluargaku kelak. Aku menjadi ibu untuk anakku kelak dan lebih dekat aku menjadi guru untuk murid yang ku miliki nanti. Dimana aku saat ini, bagaimana aku menjalani hari dan apa yang ku masukkan diri pada diri aku tercermin disana.

Bagaimana dengan anda?

Tengah bimbangkah anda pada kehidupan?

Apakah anda masih belum menemukan mimpi yang jelas?

Bagaimana menemukan kesuksesan ketika anda tak memikirkan dan memberdayakan diri yang benar dan jelas disana?

“jadilah diri yang kuat dan pembelajar karena dengan itu, masa depan bukan kau nanti.namun masa depan menantiku untuk mengurai senyum dalam langkah mu.” (arma setyo nugrahani)

Semarang, 25 maret 2011

06.07 am

Keep spirit, keep different, and stay pray J

Ibu Ibu Healingg ^_^

perjalanan pagii dari sekolah >,< ternyata sabtu pagi bisa semenyenangkan itu..  tiba di tempat tujuan pertama.... ayoo kecipak kecipu...