Friday, August 5, 2011

Tenggelamlah


Merebahlah dalam tepian hidup
Menjelmalah
Dalam santun dan keakraban
Namun jangan jadi temaran
Hanya tetaplah benderang walau dalam kegelisahan
Karena hidup
Mengajari kita belajar
Tentang tegar atau tertatih dalam kekuatan
Tak ada kata menyerah.


magelang, 4 agustus 2011

'malam tanpa celah'

22: 45 pm

Tenggelamlah

Merebahlah dalam tepian hidup
Menjelmalah
Dalam santun dan keakraban
Namun jangan jadi temaran
Hanya tetaplah benderang walau dalam kegelisahan
Karena hidup
Mengajari kita belajar
Tentang tegar atau tertatih dalam kekuatan
Tak ada kata menyerah.


magelang, 4 agustus 2011

'malam tanpa celah'

22: 45 pm

Untuk cinta yang lebih purnama


Ramadhan tiba. Untuk menguraikan kerinduan dan membenamkan kebimbangan pada hamba yang dipilihnya. Satu bulan ini, rasanya adalah sebingkis hadiah kecil dintara bulan yang lain. Dijadikan Allah sebagai bulan yang mulia, bulan penuh ampunan dan rahmat. Dilipatkannya segala amal. Di benamkan kita pada kasih dan sayangNya. Yang walau hanya dalam diam doa orang yang berpuasa adalah sebuah tawaran keridhoan, bahkan tidurnya pun ibadah.
Sungguh merupakan bingkisan yang bisa berarti bila di renungkan secara seksama. Hadiah Allah yang diberikan pada hamba yang yakin dan melaksanakan perintahnya,
Menjadikan Allah sebagai landasan akan langkah dan ikhtiarnya. Menghadirkan Allah dalam setiap pemikiran dan renungannya. Menbagi kebahagiaan dan kesusahan hanya pada Allah. Satu satunya tempat bersandar dari segala kebisingan dunia.
Langkah ini tak akan merapuh. Goda dunia mungkin hanya sekedar jadi lagu yang mengharu biru namun tak kan melenakan. Sungguh terbisik dalam tepi tepi dunia. Terbingkis masa menenggelamkan niat.
Bingai ketakwaan adalah laku. Bagaimana menghadirkan Allah dalam keseharian. Bukan hanya sekedar peribadatan dan doa namun berzikir padaNya lewat langkah dan laku kita.
Ramadhan mengijinkan kita sejenak mengenang masa demi masa. Menjumpai berbagi masalah dengan ketentuan hati yang bagai terbenam dalam pahala. Hanya bagaimana anda tahu. Bagaimana anda menjadi orang yang sadar akannya. Demi meraih cintaNya,. Cinta yang hakiki. Cinta yang lebih purnama

Magelang, 3 agustus 2011
‘pagi subuh di rumah bersama sepi’

Menjelang malam

Dunia meredup petang . simfoni mentari beradu dengan temaram. Namun ada satu tatap harap tetap berada disana. Di sudut stasiun dengan segenap sisa harapan. Matanya redup. Bila terlihat gurat raut itu menggambarkan perjuangan yang bahkan tak akan tercurahkan lewat kata. Disamping keranjang yang lapuk itu menjajakan jajanan pasar, yang sedari pagi tak dilirik seorangpun yang melewatinya.
Tangan itu mengambil ujung kain yang entah sedari kapan dimilikinya. Wajah itu menyiratkan kepasrahan. Dan tak memiliki raut pinta berlebihan. Hanya semoga di akhir hidupnya bisa tersenyum. Ada foto yang terselip di balik tumpuan jajanan yang dijualnya. Foto lapuk yang telah di makan usia.
Seorang lelaki setengah baya dan wanitanya yang menawan di sampingnya menggendong seorang bayi.
“pak, sepertinya tak lama lagi kita akan bertemu’ gumamnya dalam bisik.
Di selipkannya kembali foto itu di tempatnya. Menajamkan kekuatannya untuk kembali membawa jajanannya.
Langkah pelannya menyusuri pinggir stasiun. Perlahan terlintas banyak kenangan yang datang. Dari mulai ia meniti mimpi di desa dengan suaminya hingga anak yang di banggakannya meninggalkannya tak berkabar. Kini temaram lampu menjadi teman tanpa suara dalam gelap. Gumam doa yang di panjatkannya. Mengisyaratkan kebungkaman hati yang tak bertuankan kepastian.
Di rebahkannya badan di sudut kota. Bertebing kecuraman kota dan kesombongan angkuh takdir. Di batas peradaban antara kehidupan atau melesat keambang keabadian. Dia hanya melihat gemerlap bintang. Bertemankan suara berisik penjada stasiun yang bersautan meneriakan dukungan pada permainan bola malam ini.
Mata wanita tua itu berkedip pelan. Dalam diam dan sejenak mengumamkan syukur atas hidupnya, nafasnya pelan. Nadinya melemah dan ia menutup mata. Seiring hembusan angin kota. Diam dalam kesunyian peradaban. Tak berbekas dan bertuankan senyuman.

Diam dalam kesunyian peradaban
Magelang, 2 agustus 2011
23: 41

Tertera

Dalam gelap
Gempita cahaya
Temaram malam
Tak berbekas apa dan mengapa
Sudut kecil
Memberikan kesan
Tersembunyi maupun berderang
Suram atau bercahaya

Diam
Dalam sebab
Dan tak berkuasa
Walau dalam dunia
Pernahkan pinta
Berhati tentang rakyatnya

Curah jiwa
Bergolak dalam dada
Satu.. dua.. tiga


Jatuh dalam tepian
Bersama
Harta..

Kehilangan tahta..

Magelang, 2 agustus 2011

Cerita dari sudut rumah

Detik ini kembali tenggelam dalam kesempatanku menuliskan rangkaian pemikiranku kembali di meja ini membuat segalanya menjadi berbeda. Hadirlah kerumahku maka akan kau temukan meja yang menjadikan pikiranmu akan melayang jauh pada kenangan yang terselip disini.
Kenapa jadi ngomongin meja.. ~,~ dasar aneh..
And this is all.. malam pertama dirumah..
Actually.. udah nyampek rumah dari tadi dhuhur,~
Meng-cancel segala agenda.. saat sms ibu tiba tadi ba’da subuh..

Mbak, kapan pulang?ibu kangen, kan besok puasa..

Hmmm... langsung packing dan pulang,~
Bukan gimana.. Cuma ndak ingin dan belum bisa meninggalkan sebingkis hadiah Allah yang ingin selalu dan selalu arma jaga.. (lebay ding, orang mau check kesehatan juga.. dan ndak lolos untuk pergi jauh lagi) hehe..
Dan akhirnya rumah adalah peraduan paling menyenangkan untuk apapun. Sekalipun harus sama saja~ ditinggal dirumah..sendirian..

Namun tumpukan buku dan koran ini serta foto dan setiap dari rumah ini selalu menghadirkan kelengkapan hari yang membuatku tak dilanda rasa jenuh. Walau kadang harus membuat hidup menjadi lebih dan lebih berarti dengan melepas segalanya dengan bentuk tulisan seperti ini...

Dan menjelang malam ini,~
Dirumah... malam sabtu ini,~ ber-soundtrack-kan suara gitar bima, di teras..
Dan perbincangan ibu dan bapak.. (walau ndak ngerti ngomongin apaan)
Dan dengan headset di telinga, dan baru nyadar kalo ndak lagi ngedengerin lagu apapun.. hehe
Dan menikmati teh hangat,,
Arma Cuma ingin bersyukur dan bersyukur..


Dan
Pintaku Allah..
Berikan waktu sebetar lagi..


Magelang,30 juli 2011
‘sudut rumah’

Ramadhan.. adalah bulan antara aku dan Dia..

Menjelang dari ini ada perasaan yang membuncah dalam dada. Terurai dalam kelip dan kerlip pedar cahaya yang ku lihat dalam malam. Seakan mengisyaratkan bahwa semesta ikut bergempita menyambut bulan nan di nanti dan di rindukan seluruh ummat muslim di dunia.

Alhamdulillah..

Sebingkis syukur tenggelam malam ini.. entah oleh apa dapat terurai cinta ini.. tentah dari apa dapat ku miliki begitu besar bebanggaan atas diri yang bisa kembali ke suasana ini. Setahun sudah .. bagai segalanya adalah nikmat yang tak tergantikan oleh kebahagiaan semu dunia. Allah mempertemukanku dengan bulan ini. Dan tak ada yang lebih indah dari hadiah itu untukku.

Dan aku berdiri di tempat nan jauh dari tanah nabi namun kerinduan tak bisa teruraikan selain lagi oleh sholawat serta salam tak henti, tak lelah dan tak pernah terlupakan dalam detik demi detik kehidupan. Semoga belia, keluarga dan para ambiya’ akan selalu dan selalu ada di tempat terindah di hadapanNya. Dan kita adalah umat diantara banyak umat yang senantiasa menanti dan mengharap syafaatnya di yaumul akhir nanti.

Ramadhan berarti banyak untuk ku. Pertemuan dan penghargaan atas diri seorang hamba pada Rabb nya. Tertambat cinta yang terlantun dalam setiap doa yang akan selalu di dengar oleh Nya.

Berbingkai dalam kedalaman iman yang dimilikinya seorang hamba hanya ingin berpasrah pada takdir dan hidupnya. Bukan pada dokter atau makhluk lainnya. Semua hanya perkiraan .namun waktu dan ketentuan merupakan sepenuhnya keputusan Rabb yang rahman ni rahimm..

Setahap demi setahap aku merenungi segalanya. Perjalanan hidup yang memberikanku banyak tahap pemikiran dan syukur atas apa yang ku terima. Sekiranya adalah bentuk kasih dan sayangnya padaku. Pada hamba yang bahkan tak sanggup mengangkat muka ketika tertunduk dalam LailNya, hamba yang serba kekurangan dan bahkan tak bisa kiranya di hitung khilaf yang di perbuat..

Namun kini..
Selepas setahun berlalu.. selepas segalanya bergulir, semakin aku mencoba dan mencintaiNya tanpa tawar, meleoas cinta cinta yang lain yang faktanya hanya menjadi beban diri dan hanya menjadi racun hati. Ikrarku tentang cinta yang pertama dan terakhir itu masih ku pegang teguh. Semoga waktu kelak yang menentukan. Siapakah yang pertama dan terakhir itu.

Kerlip bintang menandakan isyarat akan sebuah tasbih alam yang terurai dalam hening. Hamba hanya berkelut dalam dunia ini kadang lupa. Bawasannya di ujung dunia sana mungkin banyak yang bahkan iri pada hembusan nafas yang hamba miliki. Mungkin ada banyak pinta yang tak terkabul atas apa yang ada dan terjadi pada diri hamba.

Allah..
Ijinkan tangis dan kepasrahan ini adalah sebuah simbol akan penghambaan tanpa celah yang hamba bangun menuju ridhoMu.. bukan karena syurga apalagi dunia... hanya untuk riidhoMu..
Rabb..
Ijinkan hamba iklas akan segala yang terjadi..pada yang datang dan yang telah pergi.. ijinkan hamba berjalan dan bergerak atas dasar dan hanya karena berniat untuk dan karenaMu..
Allah..
Jadikan jalan yang semakin mendaki lagi terjal ini adalah jalan kemenangan atas kekafaahan Islam di bumiMu.. atas Islam dalam fisik dan rohani kami.. atas Islam yang bukan hanya soal kami namun mereka kan keseluruhan alam.. hingga seruan padaMu.. akan lebih dan lebih membumikanMu di penjuru dunia..

Ramadhan ini berarti besar untukku.. selagi ada waktu..
Petang ini berarti banyak untukku..
Saat bila nanti nafas ini dipenghujung waktu..

Minggu,
Magelang,31 juli 2011

SOAL PILIHAN GANDA - Menganalisis Ruang Lingkup Digital Branding

SOAL PILIHAN GANDA Materi: Menganalisis Ruang Lingkup Digital Branding Mata Pelajaran: Pemasaran Kelas: XI Bisnis Digital Bentuk Soal: Pi...