Seketika aku terbangun.. tersenyum membaca sms dan kemudian diam.. diam yang berbeda. Diam yang pekat dan beralasan. Rasanya salah langkah. Hingga ada yang mengingatkan. Namun ketika terjaga ada yang lain yang berkata benar. Lalu yang mana yang ku pilih??
Akhirnya tanganku memilih mukena..
Menjadi yang terbaik adalah sebuah kebanggaan, Namun menjadi bermanfaat adalah kebahagiaan yang hakiki.. (armaarmi)
Tuesday, September 6, 2011
Berbicara tentang cinta.
Seutuhnya aku ingin sedikit menilai hari . ketika sang surya punya tempat tersendiri untuk melakukan penghambaannya atas Allah. Ketika malam tak pernah terlambat datang. Ketika awan itu berarah membentuk lantunan tasbih pada setiap pergerakannya. Hanya manusia yang terlalu singkat dan pendek berpikir tentang cinta.
Ya.. dianggapnya bahwa cinta adalah ilustrasi pendek antara dua anak manusia saja. Yang sesungguhnya cinta itu begitu luas. Sebentuk cinta seorang nelayan pada pekerjaannya tak akan membuat ia terjaga walau siangnya tetap harus ke pasar untuk menjajakan ikannya. ‘
Sebentuk cinta seorang bunda tak akan membuatnya bisa tertidur lelap saat anaknya tengah menderita kesakitan. Hingga air matanya selalu berurai saat sang ananda tengah mengaduh di ulu hatinya. Itu cinta.. dan itu lebih dari sebuah pernyataan..
Cinta juga yang di uraikan salah seorang senior ku pada dunia. Cintanya pada amanah yang diberikan padanya membuatnya tak terlelap tidur ketika anggotanya merangkai program kerja hingga acara yang henda di buat. Bukan hanya sebentuk tanggung jawab namun itulah cinta. Cinta pada hidupnya. Karena amanah yang besar memang membutuhkan cinta yang besar, begitu ujarnya sebari tersenyum memandang walpeper hapenya.
Cinta juga yang di ungkapkan bunda ketika mencium kedua pipiku setiap kali pulang kerumah . cinta yang membuat kami berdua menyusuri jalanan jogja dengan cerita dan cerita. Cinta yang membuat setiap apa yang di katanyannya adalah lantunan nada indah yang selalu ku rindukan ketika jauh. Cinta yang membuatku selalu tersenyum walau di tengah lelah amanah organisasi yang ada.
Cinta itu adalah ketika bapak mengusap kepalaku. Saat aku mencium tangan beliau dan kemudian di gumamkannya doa ketika sungkem di idul fitri itu.. cinta itu yang membuat beliau tak memperbolehkannku keluar malam. Cinta yang membuat beliau mengantar jemputku ketika ada buka bersama. Cinta itu yang membuat beliau menggendongku dulu ketika ingin melihat drum band saat karnafal. Hingga akhirnya aku yang dulu bermimpi akhirnya memegang blira dan ikut dalam drumband sekolah.. itulah cinta yang membuat ada sudut berbeda di mata beliau ketika meninggalkanku pertama kali di kos kossan dulu..
Cinta ..
Tak pernah berhenti ketika aku berbicara cinta.. mengapa mereka selalu membicarakan cinta adalah pacaran hingga berkali-kali putus dan kemudian berganti.. sedangkan aku sekalipun tak pernah menjalin semua itu. Hidupku.. tetap sama.. temanku banyak dan sahabatku.. aku tak pernah kekurangan teman.. dan aku tak pernah kehilangan waktu bersama keluarga..
Karena aku tahu.. Allah memberikan yang terbaik dengan cara yang baik.. semoga sebentuk cinta itu hanya untuk yang terakhir nanti.. semoga cinta yang itu hanya untuk suamiku kelak.. semoga tak ada yang lain.. semoga tak ku tinggalkan dunia dengan cerita masa lalu yang kan membenamkan ku pada ujung sesal. Semoga dapat uraikan sebentuk cinta itu pada.. pilihan Allah untukku..
Magelang 3 agustus 2011
Ya.. dianggapnya bahwa cinta adalah ilustrasi pendek antara dua anak manusia saja. Yang sesungguhnya cinta itu begitu luas. Sebentuk cinta seorang nelayan pada pekerjaannya tak akan membuat ia terjaga walau siangnya tetap harus ke pasar untuk menjajakan ikannya. ‘
Sebentuk cinta seorang bunda tak akan membuatnya bisa tertidur lelap saat anaknya tengah menderita kesakitan. Hingga air matanya selalu berurai saat sang ananda tengah mengaduh di ulu hatinya. Itu cinta.. dan itu lebih dari sebuah pernyataan..
Cinta juga yang di uraikan salah seorang senior ku pada dunia. Cintanya pada amanah yang diberikan padanya membuatnya tak terlelap tidur ketika anggotanya merangkai program kerja hingga acara yang henda di buat. Bukan hanya sebentuk tanggung jawab namun itulah cinta. Cinta pada hidupnya. Karena amanah yang besar memang membutuhkan cinta yang besar, begitu ujarnya sebari tersenyum memandang walpeper hapenya.
Cinta juga yang di ungkapkan bunda ketika mencium kedua pipiku setiap kali pulang kerumah . cinta yang membuat kami berdua menyusuri jalanan jogja dengan cerita dan cerita. Cinta yang membuat setiap apa yang di katanyannya adalah lantunan nada indah yang selalu ku rindukan ketika jauh. Cinta yang membuatku selalu tersenyum walau di tengah lelah amanah organisasi yang ada.
Cinta itu adalah ketika bapak mengusap kepalaku. Saat aku mencium tangan beliau dan kemudian di gumamkannya doa ketika sungkem di idul fitri itu.. cinta itu yang membuat beliau tak memperbolehkannku keluar malam. Cinta yang membuat beliau mengantar jemputku ketika ada buka bersama. Cinta itu yang membuat beliau menggendongku dulu ketika ingin melihat drum band saat karnafal. Hingga akhirnya aku yang dulu bermimpi akhirnya memegang blira dan ikut dalam drumband sekolah.. itulah cinta yang membuat ada sudut berbeda di mata beliau ketika meninggalkanku pertama kali di kos kossan dulu..
Cinta ..
Tak pernah berhenti ketika aku berbicara cinta.. mengapa mereka selalu membicarakan cinta adalah pacaran hingga berkali-kali putus dan kemudian berganti.. sedangkan aku sekalipun tak pernah menjalin semua itu. Hidupku.. tetap sama.. temanku banyak dan sahabatku.. aku tak pernah kekurangan teman.. dan aku tak pernah kehilangan waktu bersama keluarga..
Karena aku tahu.. Allah memberikan yang terbaik dengan cara yang baik.. semoga sebentuk cinta itu hanya untuk yang terakhir nanti.. semoga cinta yang itu hanya untuk suamiku kelak.. semoga tak ada yang lain.. semoga tak ku tinggalkan dunia dengan cerita masa lalu yang kan membenamkan ku pada ujung sesal. Semoga dapat uraikan sebentuk cinta itu pada.. pilihan Allah untukku..
Magelang 3 agustus 2011
sebingkis cinta dari IDUL FITRI.
“kemenangan idul fitri bukan terletak pada seberapa mewah kita merayakan eforia lebaran namun bagaimana kita mengaplikasikan kesederhanaan dan ketaatan ramadhan di bulan selepas ramadhan hingga ramadhan berikutnya”
Selalu ada cerita dalam irisan ketupat yang pada sadarnya adalah nasi , sama dengan yang biasa kita malan 3 kali sehari.
Selalu ada senyuman dalam opor yang faktanya adalah ayam, yah... walau anak kossan adalah ‘pecinta penyet’ namun ada kalanya pengen lah begaya makan ayam di FC-FC terdekat.
Selalu ada kerinduan pada sambal goreng ati, hmm.. kalo ati ayamnya mungkin agak janggal.. tapi perkedel suka ketemu kan? Jadi ndak jauh dari kita.
Yang perlu lebih kita tahu adalah bagaimana menjadi manusia baru.ceilaahh.. maca ular aja ganti kulit, ndak lah..
tampilan luar? Ya... ada baju baru kalo ada yang lebih beruntung ada hape baru..
namun lebih indah dan menarik lagi ketika membarukan niat dan sikap serta pandangan diri.
Namun bukan Cuma luar saja.. akhlak dan kesederhanaan diri juga perlu di perbarui. Bagaimana puasa itu bukan Cuma memindah jam makan saja, namun memaknainya menjadi gugusan pelatihan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kalo idul fitri? Harusnya lebih baik dong.. selepas sebulan puasa .. (yaa.. maaf kalo yang ndak penuh..hehe hus kodrat..) pengamalan dan target itu jangan Cuma menjadi kenangan indah selayaknya diteruskan untuk menjadi amalan di keseharian..
Menjaga dan mengabadikan tata laku saat puasa itu bukan Cuma jadi aturan sebulan namun jadi perbaikan di masa mendatang..
Kalo semua berlangsung.. maka perbaikan itu akan berlangsung terus menerus. Mana insya Allah .. menjadikan bulan ramadhan dan puasa serta pernak pernik perbaikannya bukan Cuma agenda tahunan namun menjadi keseharian dan berlangsung untuk agenda diri kedepan.
Lanjutkan target itu atau lebih baik lagi.. dan saling maaf dalam kalimat langsung maupun tidak (maksudnya ‘di’ atau ‘me’ di awalnya...) semoga bukan hanya di ldul Fitri ini saja..
Namun di akhir ini, Arma Setyo Nugrahani mewaliki.. hmm.. mewakili pihak yang masih punya banyak khilaf dan kesalahan baik yang eh.. yang tidak di sengaja.. dalam kesempatan ini menyucapkan Happy Ied (banyak yang pakek ini di ribuan sms yang masuk..) .. selamat hari raya Idul Fitri.. semoga kita adalah golongan yang melakukan perbaikan dan dapat terus melakukan perbaikan.. mohon maaf lahir dan batin..
Magelang, 31 agustus 2011
Selalu ada cerita dalam irisan ketupat yang pada sadarnya adalah nasi , sama dengan yang biasa kita malan 3 kali sehari.
Selalu ada senyuman dalam opor yang faktanya adalah ayam, yah... walau anak kossan adalah ‘pecinta penyet’ namun ada kalanya pengen lah begaya makan ayam di FC-FC terdekat.
Selalu ada kerinduan pada sambal goreng ati, hmm.. kalo ati ayamnya mungkin agak janggal.. tapi perkedel suka ketemu kan? Jadi ndak jauh dari kita.
Yang perlu lebih kita tahu adalah bagaimana menjadi manusia baru.ceilaahh.. maca ular aja ganti kulit, ndak lah..
tampilan luar? Ya... ada baju baru kalo ada yang lebih beruntung ada hape baru..
namun lebih indah dan menarik lagi ketika membarukan niat dan sikap serta pandangan diri.
Namun bukan Cuma luar saja.. akhlak dan kesederhanaan diri juga perlu di perbarui. Bagaimana puasa itu bukan Cuma memindah jam makan saja, namun memaknainya menjadi gugusan pelatihan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kalo idul fitri? Harusnya lebih baik dong.. selepas sebulan puasa .. (yaa.. maaf kalo yang ndak penuh..hehe hus kodrat..) pengamalan dan target itu jangan Cuma menjadi kenangan indah selayaknya diteruskan untuk menjadi amalan di keseharian..
Menjaga dan mengabadikan tata laku saat puasa itu bukan Cuma jadi aturan sebulan namun jadi perbaikan di masa mendatang..
Kalo semua berlangsung.. maka perbaikan itu akan berlangsung terus menerus. Mana insya Allah .. menjadikan bulan ramadhan dan puasa serta pernak pernik perbaikannya bukan Cuma agenda tahunan namun menjadi keseharian dan berlangsung untuk agenda diri kedepan.
Lanjutkan target itu atau lebih baik lagi.. dan saling maaf dalam kalimat langsung maupun tidak (maksudnya ‘di’ atau ‘me’ di awalnya...) semoga bukan hanya di ldul Fitri ini saja..
Namun di akhir ini, Arma Setyo Nugrahani mewaliki.. hmm.. mewakili pihak yang masih punya banyak khilaf dan kesalahan baik yang eh.. yang tidak di sengaja.. dalam kesempatan ini menyucapkan Happy Ied (banyak yang pakek ini di ribuan sms yang masuk..) .. selamat hari raya Idul Fitri.. semoga kita adalah golongan yang melakukan perbaikan dan dapat terus melakukan perbaikan.. mohon maaf lahir dan batin..
Magelang, 31 agustus 2011
Tentang sebuah malam..
Malam ke malam. Selalu terasa alam bertasbih dalam hembusan angin. Menyela sepi dalam alunan nada alam.terendap laraku disana menepikan bujur bujur dunia yang terlalu pekat untuk di telusuri. Terlalu rumit untuk di mengerti dan terlampau menyelidik untuk mengakui.
Seakan hari ini bukan yang kemarin. Menjanjikan sebuah keajaiban tentang duniaku. Ya.. dunia yang pernah ku raba dengan sentuhan demi sentuhan ilahi dan keromantisan ramadhan yang menyentuh setiap masa. Namun aku tak pernah salah. Kehidupan adalah balasan tanpa celah atas apa yang ada dan terdampar dalam nada-nada sumbang tak beraturan.
Kini.. bulan itu telah pergi..
Ditengah gempita dan eforia di sekitarku..
Aku duduk sendirian disini..
Bertemankan sajadah ini..
Mencoba menyusuri arti takbir yang berkumandang..
Menyelesaikan tangisan yang belum ku tuntaskan.
Dalam malam..
Dalam perenungan..
Dalam takbir..
Magelang,30 agustus 2011
Allah..
ijinkan aku mencintaiMu..
entah kenapa aku menyukai waktu ketika sendirian. Bukan berarti aku akan selalu menepi dari peradaban, namun ditengah kesendirian dan dekapan alam aku selalu menemukan hal yang lain dan lain lagi. Hingga ketika perjalanan demi perjalanan ku tempuh. Ada satu per satu keinginan ku gapai. Kesendirian dalam malamku adalah waktu dimana aku mengadu dan membenamkan diri dalam sajian alam terindah berasama Rabb ku.
Kini ketika kembali ke Yogjakarta. Sajian keindahan itu juga punya sejuta arti. Keindahan dan keramaian dunia di malioboro selalu mengusik untuk di jadikan objek foto. Namun sudut kecil di ujung gang ini punya cerita lain.
Seorang ibu tengah menggendong anaknya sebari mendendangkan lagu jawa. Tersengat menyejukkan. Mendengarnya sebari bersanding teh hangat dan kepenatan pikiran membuatku sedikit banyak bercengkrama dengan pikiranku sendiri.
Melihat wajah itu. Menyelidiki ketulusan itu membuatku punya banyak waktu untuk menerka mimpi yang di singkirkannya untuk makhluk kecil anugrah terindah di gendongannya itu. Tangan itu punya cerita tentang gurat gurat kerinduan atas kerindhoanNya atas apa yang di pintanya. Semoga dunia engajari kebaikan atas anak itu, semoga ketaatan atas agama menjadi langkahnya dalam hidup. Semoga bekal dunia adalah segala sesuatu yang dapat menjadi kebaikan akhirat juga untuk nya.
Ada yang mengalir di mataku. Sejenak menyelami apa yang ku pikirkan sendiri. Teringat akan ‘jarit’ atau selendang dengan motif batik yang selalu ku bawa tidur ketika merindukan ibu saat berada jauh darinya. Jarit yang menemaniku sangat lama hingga akhirnya kini berada menetap di almari ibu dengan sobekan yang memang tak di jahit.
Kenapa tiba tiba jogja menawarkan cerita baru untukku. Menyelidiki senyuman apa yng ku berikan pada orang tuaku atas doa dan peluh kerja mereka?
Jogja selalu punya cerita. Tentang ukhwah.. tentang persahabatanku dengan kawan”ku di SMA, tentang pantai.. tentang UIN.. tentang penantian..hampir 5 jam untuk seorang kawan dan impiannya. Tentang mario bros yang kini menemukan jalannya menjadi seorang yang berbeda kelak. Dan tentang perenungan..
Jogja membuatku selalu ingin mencintaNya lebih dekat. Dia yang setia menyajikan pemikiran demi pemikiran, perenungan dan penyimpulan tentang banyak hal.. hingga membuatku secara sadar atau tidak kembali dan kembali tenggelam dalam cintaNya yang tak pernah terhenti..
Bahkan.
Hingga nafas bukan lagi milik diri..
aku ingin mencintaiMu..
magelang,1 agustus 2011
Seakan hari ini bukan yang kemarin. Menjanjikan sebuah keajaiban tentang duniaku. Ya.. dunia yang pernah ku raba dengan sentuhan demi sentuhan ilahi dan keromantisan ramadhan yang menyentuh setiap masa. Namun aku tak pernah salah. Kehidupan adalah balasan tanpa celah atas apa yang ada dan terdampar dalam nada-nada sumbang tak beraturan.
Kini.. bulan itu telah pergi..
Ditengah gempita dan eforia di sekitarku..
Aku duduk sendirian disini..
Bertemankan sajadah ini..
Mencoba menyusuri arti takbir yang berkumandang..
Menyelesaikan tangisan yang belum ku tuntaskan.
Dalam malam..
Dalam perenungan..
Dalam takbir..
Magelang,30 agustus 2011
Allah..
ijinkan aku mencintaiMu..
entah kenapa aku menyukai waktu ketika sendirian. Bukan berarti aku akan selalu menepi dari peradaban, namun ditengah kesendirian dan dekapan alam aku selalu menemukan hal yang lain dan lain lagi. Hingga ketika perjalanan demi perjalanan ku tempuh. Ada satu per satu keinginan ku gapai. Kesendirian dalam malamku adalah waktu dimana aku mengadu dan membenamkan diri dalam sajian alam terindah berasama Rabb ku.
Kini ketika kembali ke Yogjakarta. Sajian keindahan itu juga punya sejuta arti. Keindahan dan keramaian dunia di malioboro selalu mengusik untuk di jadikan objek foto. Namun sudut kecil di ujung gang ini punya cerita lain.
Seorang ibu tengah menggendong anaknya sebari mendendangkan lagu jawa. Tersengat menyejukkan. Mendengarnya sebari bersanding teh hangat dan kepenatan pikiran membuatku sedikit banyak bercengkrama dengan pikiranku sendiri.
Melihat wajah itu. Menyelidiki ketulusan itu membuatku punya banyak waktu untuk menerka mimpi yang di singkirkannya untuk makhluk kecil anugrah terindah di gendongannya itu. Tangan itu punya cerita tentang gurat gurat kerinduan atas kerindhoanNya atas apa yang di pintanya. Semoga dunia engajari kebaikan atas anak itu, semoga ketaatan atas agama menjadi langkahnya dalam hidup. Semoga bekal dunia adalah segala sesuatu yang dapat menjadi kebaikan akhirat juga untuk nya.
Ada yang mengalir di mataku. Sejenak menyelami apa yang ku pikirkan sendiri. Teringat akan ‘jarit’ atau selendang dengan motif batik yang selalu ku bawa tidur ketika merindukan ibu saat berada jauh darinya. Jarit yang menemaniku sangat lama hingga akhirnya kini berada menetap di almari ibu dengan sobekan yang memang tak di jahit.
Kenapa tiba tiba jogja menawarkan cerita baru untukku. Menyelidiki senyuman apa yng ku berikan pada orang tuaku atas doa dan peluh kerja mereka?
Jogja selalu punya cerita. Tentang ukhwah.. tentang persahabatanku dengan kawan”ku di SMA, tentang pantai.. tentang UIN.. tentang penantian..hampir 5 jam untuk seorang kawan dan impiannya. Tentang mario bros yang kini menemukan jalannya menjadi seorang yang berbeda kelak. Dan tentang perenungan..
Jogja membuatku selalu ingin mencintaNya lebih dekat. Dia yang setia menyajikan pemikiran demi pemikiran, perenungan dan penyimpulan tentang banyak hal.. hingga membuatku secara sadar atau tidak kembali dan kembali tenggelam dalam cintaNya yang tak pernah terhenti..
Bahkan.
Hingga nafas bukan lagi milik diri..
aku ingin mencintaiMu..
magelang,1 agustus 2011
ketika masa dan waktu berganti,
Malam yang menjelaga petang. Terbenamnya sang surya di peraduannya pertanda kedatangan malam. Terkadang diantara kita masih sibuk dengan pemikiran pemikiran kosong tentang ketidak mengertian dan kesalahpahaman semata. Seandainya semuanya hanya semu dan padam mungkinkah keadaan mampu memiliki masa untuk kembali bersua dengan keberagaman kekecewaan dunia. Salah satunya adalah mereka yang tengah berdiri diatas amanah dan menggengam cinta kepada agamaNya. Melanjutkan hidup sesuai dengan keinginan Rabb-nya. Dalam jalan ini segalanya bisa terjadi. Segalanya dapat terjadi. Dengan Agama segalanya menjadi mungkin.
Dan segalanya adalah bagaimana mengerti dan memahami. Terkadang kita hanya sibuk tentang mereka. Tentang pemikiran orang lain. Namun akhirnya kita hanya terjerembab dam lubang suram bernama kecewa dan tunduk pada kepasrahan. Entah apa yang di janjikan bulan padang pada sang surya. Sehingga begitu waktunya tiba. Ia akan tunduk dan takluk pada penciptanya. Terbenam dan terbit seketika. Tak ber alasan kepatuhannya. Tak banyak cakap ia beribadah. Hanya dengan apa yang dia tahu. Bukan hanya dengan perdebatan panjang ia menjelajah keraguan hatinya.
Malam ini..
Ketika eforia ramadhan di akhiri. Akukah yang menangis dan merasa di tinggalkan. Aku kah yang seorang diri menjelma menjadi malam dan malam selanjutnya. Menanti sebuah bulan yang tak boleh kita lupakan. Bulan penuh anugrahNya. Bulan penentuan atas segalanya. Bulan di atas bulan selanjutnya. Kalau kalut itu jadi benar. Maka benarkan jiwa ini tetap jadi jiwa yang benar diantara kebenaran yang ada.
Ramadhan pergi.. syawal menanti..
Menunggu setahun lagi bukanlah sebuah jawaban atas kerinduan yang belum lagi terobati. Namun sebuah kata dan kerinduan tak akan diobati oleh apapun kecuali bersama Rabb nya..
ketika masa dan waktu berganti,,
magelang,29 agustus 2011
Dan segalanya adalah bagaimana mengerti dan memahami. Terkadang kita hanya sibuk tentang mereka. Tentang pemikiran orang lain. Namun akhirnya kita hanya terjerembab dam lubang suram bernama kecewa dan tunduk pada kepasrahan. Entah apa yang di janjikan bulan padang pada sang surya. Sehingga begitu waktunya tiba. Ia akan tunduk dan takluk pada penciptanya. Terbenam dan terbit seketika. Tak ber alasan kepatuhannya. Tak banyak cakap ia beribadah. Hanya dengan apa yang dia tahu. Bukan hanya dengan perdebatan panjang ia menjelajah keraguan hatinya.
Malam ini..
Ketika eforia ramadhan di akhiri. Akukah yang menangis dan merasa di tinggalkan. Aku kah yang seorang diri menjelma menjadi malam dan malam selanjutnya. Menanti sebuah bulan yang tak boleh kita lupakan. Bulan penuh anugrahNya. Bulan penentuan atas segalanya. Bulan di atas bulan selanjutnya. Kalau kalut itu jadi benar. Maka benarkan jiwa ini tetap jadi jiwa yang benar diantara kebenaran yang ada.
Ramadhan pergi.. syawal menanti..
Menunggu setahun lagi bukanlah sebuah jawaban atas kerinduan yang belum lagi terobati. Namun sebuah kata dan kerinduan tak akan diobati oleh apapun kecuali bersama Rabb nya..
ketika masa dan waktu berganti,,
magelang,29 agustus 2011
Sebagian besar hidupku adalah tentang menulis dan membaca. Namun beberapa kali selepas kemarin aku menyukai kegiatan lagi selain itu semua. Yaitu mendengarkan. Hal yang senantiasa ku lakukan dulu di rumah. Mendengarkan apapun yang ibu katakan. Mendenarkan lagu-lagu Ebiet yang menemani lembar demi lembar buku yang ku baca. dan kemudian ibu mulai menata pikiranku dengan bermacam-macam kisah yang memotivasiku untuk tetap bertahan dan dilarang takluk oleh keadaan.
Kini ketika jauh, aku merasa itu begitu berharga. Aku mulai merasa dunia tak senyaman aku dirumah. Tidak semudah aku di sekolah dulu. Dunia ini tak sekedar soal saat ini atau soal ‘aku’ namun ada persoalan lain yang jauh lebih penting.
Ketika sendirian seperti saat ini aku merasa ada hal yang lebih dari mengerti tentang hidup dan dunia ini.
Enam Pertanyaan Imam al-Ghazali
Suatu hari, Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam beliau bertanya beberapa hal:
Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. "
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.
Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar.
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati".
Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)
Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.
Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.
Tapi yang paling benar, ujarnya, adalah "MASA LALU."
Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali.
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (QS. Al- a'araf: 179).
Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah.
Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali,
Ttapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (QS. Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka memegang amanah untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam al-Ghazali.
Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah 'meninggalkan SHALAT'.
Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.
[Padahal shalat adalah tiang agama, dan merupakan salah satu rukun Islam. Barang siapa meninggalkan shalat dengan segaja bisa dihukumi kafir, karena telah gugur keislamannya]
Lantas pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang.
Benar kata Imam al-Ghazali.
Tapi yang paling tajam adalah "lidah MANUSIA".
Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
[jadi ingat dengan orang yang kadang-kadang suka ceplas-ceplos yang kurang baik - semoga kita semua diampuni Allah SWT karena kadang kita lalai dalam menjaga lidah / ucapan kita sendiri]
________________________________________________
:: http://hidayatullah.com/mambots/editors//
Kini ketika jauh, aku merasa itu begitu berharga. Aku mulai merasa dunia tak senyaman aku dirumah. Tidak semudah aku di sekolah dulu. Dunia ini tak sekedar soal saat ini atau soal ‘aku’ namun ada persoalan lain yang jauh lebih penting.
Ketika sendirian seperti saat ini aku merasa ada hal yang lebih dari mengerti tentang hidup dan dunia ini.
Enam Pertanyaan Imam al-Ghazali
Suatu hari, Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam beliau bertanya beberapa hal:
Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. "
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.
Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar.
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati".
Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)
Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.
Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.
Tapi yang paling benar, ujarnya, adalah "MASA LALU."
Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali.
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (QS. Al- a'araf: 179).
Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah.
Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali,
Ttapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (QS. Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka memegang amanah untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam al-Ghazali.
Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah 'meninggalkan SHALAT'.
Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.
[Padahal shalat adalah tiang agama, dan merupakan salah satu rukun Islam. Barang siapa meninggalkan shalat dengan segaja bisa dihukumi kafir, karena telah gugur keislamannya]
Lantas pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang.
Benar kata Imam al-Ghazali.
Tapi yang paling tajam adalah "lidah MANUSIA".
Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
[jadi ingat dengan orang yang kadang-kadang suka ceplas-ceplos yang kurang baik - semoga kita semua diampuni Allah SWT karena kadang kita lalai dalam menjaga lidah / ucapan kita sendiri]
________________________________________________
:: http://hidayatullah.com/mambots/editors//
lebih takut pada akhirat dari pada kelaparan
Perjalanan panjang antara tahu dan memahami adalah proses. Hal itu mengisyaratkan bagaimana kita mencoba bercengkrama dengan hari tentang berbagai hal dan pengarahan. Dan seperti itulah saat kita mencoba menemukan kebenaran. Kebenaran hakiki hanya milikNya. Namun sebagai manudia yang memiliki rasa, cipta dan karsa , kita memiliki banyak peluangg untuk sekedar meraba kebenarannya.
Dan bagaimana menafsirkan kata ‘nasionalisme’ itu. Kata yang mengusik pikirku ketika melihat kampung ini. Pemukiman yang memandangku dengan sebelah matanya. Pemukiman yang membuatku berdesir hati. Seberapa besar pengertian para petinggi negara ketika mereka menyembunyikan hak-hak mereka. Mungkinkah tak mereka sadari diantara makanan mubazir dan gelimang itu sesungguhnya ada air mata dan tangis menderu dari rakyat yang memilih mereka.
Langkahku pelan menyusuri pemukiman ini. Pemukiman yang terlanjur membuatku menangis di balik diamku. Pandangan aneh mereka yang ku balassengan senyum ramah. Namun sejenak aku menengok menemukan sebuah tempat bersih di antara gubuk dan pemukiman yang padat keluhan ini. Tempat yang menjanjikan sebuah petemuan antara hamba dan Rabb nya. Sudut dunia yang tak berpihak. Tempat di pemukiman ini yang mungkin kini semakin banyak tak terjamah. Tempat yang kini kian hari tak di tengok walaupun telah diperindah tangan-tangan iklas para relawannya. Sudut tempat bernama mushola.
Tertata diri dalam wudhu. Aku bersuci dengan air seadanya. Mencoba menerka bagaimana datangnya air bersih ini di tengah pemukiman yang tidak bersahabat dengan kata bersih dan rapi ini. Namun ku tepis segalanya mencoba mencari keridhoannya dengan menyelesaikan urusan dunia dan kembali bersuci untuk mengundung cinta yang tak bertepi diantara hamba dan penciptanya.
Sesaat aku bersimpuh mencoba sedikit menelisik hati. Pelaksanaan sholay ashar dalam kegalauan diri dan pencarian tiada henti dalam arti kehidupan. Sesungguhnya kita hanya perlu melihat dan sadar. Karena segalanya telah tergelar lebar. Hanya kita kadang sering ‘melenakan’ diri dalam sebuah anggapan bahwa itu bukan urusan kita.lalu itu urusan siapa kawan?
Ketika para petinggi itu tak lagi bisa di percaya kata mu dulu.ketika teriakanmu keras di depan gedung mereka. Apa aku cukup keras tenaga untuk meringankan beban kaum yang kau wakilkan suaranya. Ketika tenagamu cukup untuk berorasi. Apa kaupunya sedikit tenaga untuk sekedar mrngajari mereka yang kau bicarakan belajar menulis dan membaca.
Mereka mungkin tak tahu akan perjuanganmu di medan aksi di sana kawan, karena mereka memang tak merasakan keberadaamu.mendekatlah.. tanamkan kebahagiaan dan perenungan dalam kesenjangan antara mereka. Berikan mereka sedikit waktu untuk mengenalmu. Pencoba percaya pada sisi dan sisi keteladanan dirimu yang kau miliki. Berikan mereka waktu untuk tau begitu berharganya ilmu untuk di kejar hingga gelar demi gelar kau ujung keberadaannya.
Tak habis cinta yang ku berikan padaNya. Cinta antara hamba dan Rabbnya. Cinta pada kesadaran dan segala kenikmatan atas rahmatNya. Merebah diri dalam keiklasan dan kegalauan yang sama . ku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ini.karena hari hampir senja.
Namun ada kehendak dunia yang membuatkuku melihat seorang kakek. Tubuhnya yang renta tengah membuat mainan kecil berbentuk mobil di pinggiran teras mushola ini. Senyuman itu membuatku tak kira dalam ketulusan yang di milikinya. Mencoba mereka gerangan apa yang membuat gelimang bahagia itu menyusuri gurat renta dan tubuh ditelan usia itu.
Disana perbincangan itu di mulai. Hidup yang membuatnya harus merantau ke jakarta. Hidup yang membuatnya memilih untuk melupakan masa lalunya ketika ditinggal seseorang terkasihnya di kampung halaman. Hidup yang di syukurinya karena dapat menemukan dunia kecil diantara gemerlap jakarta dan Islam yang di genggamnya.
Dalam hidup yang sebantar di jalaninya. Di habiskan dalam pengamdian tanpa celah antara mushola kecil ini dan tatanan dunia untuk sesuap nasi dalam maninan mobil-mobilan ini. Namun ia tak perduli, ia hanya bersyukur telah memiliki waktu untuk sekedar berbagi ilmu dengan anak-anak di sekitar sini setiap senin rabu dan sabtu sore dengan mengajari mengaji. Dia cukup mengerti antara hidup dan penghambaannya hanya berahir nanti dengan kain kafan yang disiapkannya. Dan hidup ini mungkin tak akan abadi hingga tak salah bila dia lebih takut pada akhirat dari pada kelaparan.
Jika itu pula yang di pikirkan pejabat kita mungkin tak ada korupsi..
magelang, 23 agustus 2011..
'pinggiran.. '
Dan bagaimana menafsirkan kata ‘nasionalisme’ itu. Kata yang mengusik pikirku ketika melihat kampung ini. Pemukiman yang memandangku dengan sebelah matanya. Pemukiman yang membuatku berdesir hati. Seberapa besar pengertian para petinggi negara ketika mereka menyembunyikan hak-hak mereka. Mungkinkah tak mereka sadari diantara makanan mubazir dan gelimang itu sesungguhnya ada air mata dan tangis menderu dari rakyat yang memilih mereka.
Langkahku pelan menyusuri pemukiman ini. Pemukiman yang terlanjur membuatku menangis di balik diamku. Pandangan aneh mereka yang ku balassengan senyum ramah. Namun sejenak aku menengok menemukan sebuah tempat bersih di antara gubuk dan pemukiman yang padat keluhan ini. Tempat yang menjanjikan sebuah petemuan antara hamba dan Rabb nya. Sudut dunia yang tak berpihak. Tempat di pemukiman ini yang mungkin kini semakin banyak tak terjamah. Tempat yang kini kian hari tak di tengok walaupun telah diperindah tangan-tangan iklas para relawannya. Sudut tempat bernama mushola.
Tertata diri dalam wudhu. Aku bersuci dengan air seadanya. Mencoba menerka bagaimana datangnya air bersih ini di tengah pemukiman yang tidak bersahabat dengan kata bersih dan rapi ini. Namun ku tepis segalanya mencoba mencari keridhoannya dengan menyelesaikan urusan dunia dan kembali bersuci untuk mengundung cinta yang tak bertepi diantara hamba dan penciptanya.
Sesaat aku bersimpuh mencoba sedikit menelisik hati. Pelaksanaan sholay ashar dalam kegalauan diri dan pencarian tiada henti dalam arti kehidupan. Sesungguhnya kita hanya perlu melihat dan sadar. Karena segalanya telah tergelar lebar. Hanya kita kadang sering ‘melenakan’ diri dalam sebuah anggapan bahwa itu bukan urusan kita.lalu itu urusan siapa kawan?
Ketika para petinggi itu tak lagi bisa di percaya kata mu dulu.ketika teriakanmu keras di depan gedung mereka. Apa aku cukup keras tenaga untuk meringankan beban kaum yang kau wakilkan suaranya. Ketika tenagamu cukup untuk berorasi. Apa kaupunya sedikit tenaga untuk sekedar mrngajari mereka yang kau bicarakan belajar menulis dan membaca.
Mereka mungkin tak tahu akan perjuanganmu di medan aksi di sana kawan, karena mereka memang tak merasakan keberadaamu.mendekatlah.. tanamkan kebahagiaan dan perenungan dalam kesenjangan antara mereka. Berikan mereka sedikit waktu untuk mengenalmu. Pencoba percaya pada sisi dan sisi keteladanan dirimu yang kau miliki. Berikan mereka waktu untuk tau begitu berharganya ilmu untuk di kejar hingga gelar demi gelar kau ujung keberadaannya.
Tak habis cinta yang ku berikan padaNya. Cinta antara hamba dan Rabbnya. Cinta pada kesadaran dan segala kenikmatan atas rahmatNya. Merebah diri dalam keiklasan dan kegalauan yang sama . ku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ini.karena hari hampir senja.
Namun ada kehendak dunia yang membuatkuku melihat seorang kakek. Tubuhnya yang renta tengah membuat mainan kecil berbentuk mobil di pinggiran teras mushola ini. Senyuman itu membuatku tak kira dalam ketulusan yang di milikinya. Mencoba mereka gerangan apa yang membuat gelimang bahagia itu menyusuri gurat renta dan tubuh ditelan usia itu.
Disana perbincangan itu di mulai. Hidup yang membuatnya harus merantau ke jakarta. Hidup yang membuatnya memilih untuk melupakan masa lalunya ketika ditinggal seseorang terkasihnya di kampung halaman. Hidup yang di syukurinya karena dapat menemukan dunia kecil diantara gemerlap jakarta dan Islam yang di genggamnya.
Dalam hidup yang sebantar di jalaninya. Di habiskan dalam pengamdian tanpa celah antara mushola kecil ini dan tatanan dunia untuk sesuap nasi dalam maninan mobil-mobilan ini. Namun ia tak perduli, ia hanya bersyukur telah memiliki waktu untuk sekedar berbagi ilmu dengan anak-anak di sekitar sini setiap senin rabu dan sabtu sore dengan mengajari mengaji. Dia cukup mengerti antara hidup dan penghambaannya hanya berahir nanti dengan kain kafan yang disiapkannya. Dan hidup ini mungkin tak akan abadi hingga tak salah bila dia lebih takut pada akhirat dari pada kelaparan.
Jika itu pula yang di pikirkan pejabat kita mungkin tak ada korupsi..
magelang, 23 agustus 2011..
'pinggiran.. '
Subscribe to:
Posts (Atom)
SOAL PILIHAN GANDA - Menganalisis Ruang Lingkup Digital Branding
SOAL PILIHAN GANDA Materi: Menganalisis Ruang Lingkup Digital Branding Mata Pelajaran: Pemasaran Kelas: XI Bisnis Digital Bentuk Soal: Pi...
-
SOAL PILIHAN GANDA Materi: Menganalisis Ruang Lingkup Digital Branding Mata Pelajaran: Pemasaran Kelas: XI Bisnis Digital Bentuk Soal: Pi...
-
Assalamu'alaikum.. Pasti ini sudah terlampau lama dari waktu kelulusan kalian di tanggal 4 Juni 2022 namun setidaknya ini masih di bula...
-
Tiga Kali Jatuh Dari Atas Keledai Suatu ketika Rasulullah melakukan perjalanan dengan menunggang keledai. Di tengah perjalanan beliau ber...