Tentu tak ada seorang pun yang benar-benar piawai dalam mengambil hati, terlebih ketika amanah sebagai wali kelas ini hampir dua tahun lamanya tak kujalani. Ada jarak yang sempat tercipta, ada keraguan yang perlahan harus dijembatani kembali. Di antara ribuan kata yang sesungguhnya mampu kususun lewat tulisan, aku pun sadar bahwa tak semuanya sanggup merangkum isi hati secara utuh. Sebab perasaan, tanggung jawab, dan kepedulian kerap hadir dalam bentuk yang tak selalu dapat dijelaskan, melainkan hanya bisa dirasakan dan dijalani dengan kesungguhan.
Bagiku, menjadi wali kelas bukanlah sekadar menjadi wali bagi mereka di atas kertas. Ia bukan hanya peran administratif, bukan pula sekadar pelaksana tugas rutin atau pelengkap lembar-lembar rapor yang harus selesai tepat waktu. Menjadi wali kelas adalah tentang hadir, tentang membersamai proses, tentang menyaksikan tumbuh kembang mereka sejak pertama kali melangkah ke jenjang kelas XI. Dari sanalah perlahan aku belajar mengenal mereka, bukan sebagai deretan nama dalam daftar hadir, melainkan sebagai pribadi-pribadi muda dengan cerita, potensi, dan pergulatan masing-masing.
Aku kemudian memahami bahwa mengenal tidaklah cukup hanya dengan bersua. Berjumpa setiap hari tidak serta-merta membuat seseorang benar-benar dipahami. Pemahaman lahir dari proses yang lebih panjang: dari percakapan sederhana, dari tawa yang terlepas di sela-sela kesibukan, dari canda yang mencairkan jarak, hingga dari perbedaan pendapat yang mengajarkan cara saling menghargai. Dalam proses itulah relasi tumbuh, dan kisah kebersamaan menemukan maknanya, menjadi sesuatu yang berbeda dari sekadar rutinitas belajar mengajar.
Di antara 36 siswi yang hampir satu semester ini kujalani proses pendekatan dengannya, aku semakin menyadari betapa beragamnya pribadi yang mereka miliki. Setiap “ciwi-ciwi” ini membawa warna, karakter, dan cerita yang tak pernah sama. Barangkali waktu tak akan pernah cukup bagiku untuk memahami mereka sepenuhnya, namun bukankah kebersamaan ini masih menyisakan ruang untuk saling bertukar asa? Menjemput semester genap dengan harapan yang lebih matang, dengan cerita yang lebih purnama, dan dengan langkah yang dijalani bersama—itulah makna menjadi wali kelas yang sesungguhnya bagiku.
are you ready for the next chapter of life?


No comments:
Post a Comment