Saturday, May 3, 2025

Hujan



 

^_^


Teringat aku pada suatu masa yang telah jauh ditinggalkan, cerita kala itu 2016, ketika setiap pagi menyambutku bukan hanya dengan cahaya matahari, tapi juga dengan serangkaian peristiwa kecil yang membentuk hidupku. Tak ada yang istimewa bagi dunia, namun bagiku, tiap langkah, tiap hirupan udara pagi, adalah bagian dari ritual yang menenangkan. Aku menatap hari dengan mata sederhana, memeluk waktu dengan tenang, dan membiarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Segala hal, entah itu tawa, lelah, atau kebingungan, hadir bersamaan, menyatu dalam keseharian yang akhirnya kucintai tanpa syarat.

Ruang itu—yang tak pernah berbicara, namun mencatat segalanya—menjadi saksi setia. Di sanalah aku berangkat dengan jaket tebal dan tas punggung yang lusuh namun penuh makna, berjalan menyusuri lorong sepi yang seolah enggan melihatku lagi untuk kesekian kalinya. Aku mengetik di sudut kecil dengan mesin yang tak mengenal teknologi tinggi, tapi mengenang setiap cerita yang kutuliskan. Membuka pintu dan menggulirkan korden pagi dan sore hari menjadi rutinitas kecil yang tak pernah kupikir akan kurindukan—dan nyatanya, kini ia menjadi bagian dari nostalgia yang paling manis.

Kini aku berdiri sebagai versi diriku yang baru—dengan segala lebih dan kurang yang kuemban—dan dalam diam aku bersyukur. Sebab kebiasaan-kebiasaan sederhana itu telah menempa jiwaku, membentuk cara pandangku, bahkan menyusun tiap lapisan kesabaran yang kini kupunya. Masa itu telah berlalu, namun tidak hilang. Ia hidup dalam ingatan, dalam detak jantung yang pelan-pelan mengamini bahwa tak semua hal harus megah untuk berarti. Terkadang, justru yang paling diamlah yang paling mengakar—dan masa itu, ruang itu, lorong itu, adalah akar dari siapa aku hari ini.

Lampu itu tak lagi temaram


tak lagi temaram, 
karena ku sadari 
sebenarnya arti sinar..

Selaras Rasa


Di antara keramaian yang riuh 
dan langkah-langkah yang saling bersisihan, 
pertemuan itu hadir seperti bisik angin di sela gemuruh—
tak disangka, namun terasa. 
Pandang mata bertaut tanpa aba-aba, 
seolah semesta berhenti sejenak memberi ruang 
bagi dua jiwa yang tak saling mencari, 
tapi diam-diam saling menanti. 
Kata-kata tak perlu sempurna, 
cukup getar di dada yang berbicara. 
Lalu hari-hari berjalan, menyulam cerita 
demi cerita, entah bahagia, 
entah luka, 
tapi selalu tentang mereka berdua. 
Dan meski waktu tak selalu ramah, 
rasa itu tinggal, menetap tanpa izin, 
menjadi sunyi yang tak pernah sepi. 
Tiada logika yang mampu menjabarkan 
bagaimana segalanya bermula, 
atau mengapa tak juga usai—
karena bukankah rasa memang tak selaras 
dengan logika? 
Kelak, segalanya akan berlalu seadanya. 
Hidup akan terus berjalan. 
Tapi akan ada kenangan baru yang turut terukir, 
meski tak pernah bisa menghapus rasa 
yang tak berkesudahan.

Ibu Ibu Healingg ^_^

perjalanan pagii dari sekolah >,< ternyata sabtu pagi bisa semenyenangkan itu..  tiba di tempat tujuan pertama.... ayoo kecipak kecipu...